Pendidikan Nasional dan “Virus U1N1”

18 07 2009

kartun-blog
ujiannasionalsmpSebuah fakta
FJ Siswanto: “Sembilan belas siswa Seminari (sekolah pendidikan pastur) Blitar bergabung dengan SMAN Blitar dalam Ujian Nasional SMA tahun 2009. Mereka bingung saat mendapati guru dan murid saling contek pada waktu ujian”.

Hal diatas hanya sebuah contoh yang mengindikasikan bahwa pendidikan nasional perlahan tapi pasti semakin menurun kualitasnya. Faktanya adalah:

1. Semakin tinggi pendidikan, semakin mudah menganggur. Bahwa pendididkan di Indonesia menjadikan kalangan terdidik semakin tidak mandiri.

2. Ujian membutuhkan pengawas independen, dengan alasan guru yang ada masih kurang bisa dipercaya. Tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan hal ini selain “gagal, gagal total” karena para guru dianggap sudah tidak bisa menjadi teladan. Tidak hanya itu, bahwa dengan adanya pengawas independen biaya ujian nasional mengalami pembengkakan. Di Jawa Timur biaya pengadaan pengawas mencapai 40 miliar rupiah.

3. Pasar ekonomi, politik, dan budaya yang tidak sehat. Ini terbukti bahwa indonesia adalah negara konsumsi, negara terkorup, dan juga maraknya pornografi di Indonesia.

Why?????

Ini terjadi karena

  1. Pendidikan Indonesia terlalu formalistik yang seolah-olah hanya terbatas pada sekolah dan ijazah.
  2. Sekolah hanya menjadi tempat guru mengajar, bukan tempat peserta didik untuk belajar. Target-target statistik pendidikan telalu dipaksakan, misal dengan menaikkan batas kelulusan tanpa melihat bakat siswa di bidang selain mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional.
  3. Peserta didik dipaksa untuk menyesuaikan kurikulum, ini artinya sistem pendidikan Indonesia gagal dalam mengenali potensi peserta didik.
  4. Sekolah dan guru tidak tertarik dengan bakat dan minat murid yang beragam.
  5. Pendidikan bahkan mengasingkan murid dari kehidupan sehari-hari.
    Padahal, belajar adalah proses memaknai pengalaman individual yang unik.

  6. Ujian Nasional dijadikan alat pemacu dari ukuran mutu pendidikan.
  7. Pembelajaran hanya diarahkan untuk menyiasati ujian-ujian. Ini yang menyebabkan maraknya lembaga bimbingan belajar. Bahkan sampai-sampai lembaga bimbingan belajar dianggap lebih baik daripada sekolah.
  8. Ujian Nasional menegaskan sikap pemerintah yang meremehkan guru sebagai profesi.
  9. Ujian Nasional (UN) menjadi “virus U1N1” laten yang menggerogoti kinerja sistem pendidikan nasional.
  10. IKIP meninggalkan misinya mendidik calon guru, terbukti dengan banyaknya IKIP yang berubah nama menjadi universitas dengan alasan tuntutan kondisi.
  11. Tapi, eks IKIP asyik dengan proyek-proyek sertifikasi guru.
  12. Anak-anak Indonesia paling berbakat tidak memilih IKIP, lulusan IKIP yang terbaik tidak mau menjadi guru.

So WHAT??????

Solusinya adalah:

  1. Pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
  2. Sekolah lebih non formal, kurikulumnya menyesuaikan kebutuhan murid.
  3. Guru terampil membantu murid menemukan bkekuatannya.
  4. Guru menjadi inspirator bagi murid agar menjadi manusia yang merdeka, kreatif, inovartif.
  5. Belajar tidak diorentasikan pada ujian, tapi pada penguasaan kompetensi-kompetensi dasar yang penting.
  6. Pemerintah dari waktu ke waktu melakukan sample based untuk mengetahui bagaimana kualitas pendidikan kita jika dibanding dengan negara lain, sekaligus juga melihat perkembangan pendidikan nasional.
  7. Mempertajam akreditasi sekolah dan meningkatkan profesionalisme guru.

Sumber tulisan:
Diskusi bersama Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D.
(Ketua Dewan Pendidikan Jatim)


Aksi

Information

8 responses

19 07 2009
herry

mak nyus bgt,,,

19 07 2009
fighting2surrender

Thank’s bro…!

19 07 2009
anjaya

mantap mas tulisannya, saya sepakat klo blognya difokuskan ke pendidikan aja. mengingat saya juga guru. he..he..

19 07 2009
fighting2surrender

Sykron….!
Iya, rencana emang fokus ke edukasi dan dakwah.
pendidikan=dakwah

28 07 2009
Rina

“Ujian membutuhkan pengawas independen, dengan alasan guru yang ada masih kurang bisa dipercaya. Tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan hal ini selain “gagal, gagal total” karena para guru dianggap sudah tidak bisa menjadi teladan.Tidak hanya itu, bahwa dengan adanya pengawas independen biaya ujian nasional mengalami pembengkakan. Di Jawa Timur biaya pengadaan pengawas mencapai 40 miliar rupiah”…

MJJ..ngerasa gak enak..krn ikut menikmati duit hasil dari TPI (Tim Pemantau Indepneden). Guru masih tetap jadi pengawas ruangan koq..TPI yang bertugas memantau utk mengantisipasi terjadinya kecurangan (guru ngasih jawaban, membiarkan peserta ujian saling contek, mengisikan LJK peserta ujian, dll). So, bukan berarti guru udah gak dipercaya.

29 07 2009
miftahuddin

Sykurlah kalau begitu. Setidaknya guru harus benar-benar menjadi contoh.

1 06 2010
3 06 2010
miftahuddin

Salam kenal,

Saya sebenarnya lebih senang menyebut seorang guru sebagai “Pahlawan dengan Tanda Jasa”. Seorang Guru harus dihargai sepadan dengan jasa yang telah diberikan untuk mendidik anak bangsa. Ini juga sekaligus menjadi bukti dari komitmen pemerintah untuk memajukan pendidikan nasional. Anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN harus segera dipenuhi.

Ada tiga unsur penting dalam pendidikan: pembuat sistem (pemerintah), Pelaku sistem (Pengajar), dan objek dari sistem (peserta didik). Ini yang harus diperbaiki secara seimbang.

dengan begitu peradaban Indonesia akan menjadi peradaban terdepan di dunia. Tentu saja dengan “sistem pendidikan yang baik” sebagai faktor utama kebangkitan peradaban kita.

Menuju indonesia yang berpengetahuan, beradab, dan bermoral.

Terima kasih comment nya

(miftahuddin santoso)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: