SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA, APA YANG SALAH….?

5 06 2009

Kesejahteraan suatu bangsa tentu sangat dipengaruhi oleh kualitas bangsa tersebut dalam membangun sistem pendidikan yang baik, dimana dari sistem pendidikan itu akan lahir sumber daya manusia (SDM) unggul yang nantinya mampu untuk mengelola semua potensi yang dimiliki bangsa menjadi sebuah kekuatan untuk memajukan bangsa. Hal ini sudah banyak dibuktikan dari kenyataan yang ada bahwa semua negara maju di dunia adalah negara-negara yang unggul kualitas pendidikannya, atau paling tidak negara yang sangat memperhatikan pendidikan sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Ambil contoh Jepang, Belanda, dan Jerman. Walaupun negara-negara tersebut memiliki keterbatasan sumber daya alam (SDA) tetapi mereka mampu membuktikan bahwa SDM yang unggul mampu mengatasi segala keterbatasan yang dimiliki.

Indonesia sebagai negara yang ingin maju, tentu tidak mau ketinggalan untuk menyusun sebuah perundang-undangan tentang sistem pendidikan. Bahkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menegaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Ada optimisme yang besar ketika kita melihat cita-cita pemerintah dalam memfungsikan pendidikan. Setidaknya ada tiga ranah penting yang ingin disentuh oleh pemerintah dalam mengelola pendidikan yaitu intelektual, sikap (emosional), dan spiritual. Sehingga bangsa Indonesia tidak hanya menjadi bangsa yang intelek tetapi juga menjadi bangsa yang berakhlaq luhur. Tetapi tampaknya kita harus membuka mata dengan kondisi saat ini, karena memang kenyataan masih belum sesuai dengan harapan. Banyak terjadi kebrobrokan moral di sekitar kita bahkan di lingkungan pendidikan. Dalam hal ini yang perlu kita soroti adalah kondisi peserta didik. Salah satu masalah pokok sistem pendidikan nasional adalah Menurunnya akhlak dan moral peserta didik (sumber:Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum SMK 2007). Terbukti dengan banyaknya kasus pelecehan seksual, penyalahgunaan pemakaian NARKOBA, serta berbagai tindakan kriminal yang ironisnya dilakukan oleh para siswa. Ini membuat kita bertanya sebenarnya seperti apa pelaksanaan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3? Sangat mudah dijawab bahwa pemerintah masih belum berhasil dalam menanamkan nilai-nilai spiritual pada pelaksanaan pendidikan. Pendidikan nasional selama ini hanya menekankan pada tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek afektif meskipun sudah menekankan pada bagaimana siswa bertingkah laku dan bersikap ternyata masih belum cukup karena ranah afektif hanya terpaku pada kecerdasan emosional yang sebatas menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Seorang harus memiliki spiritual yang kuat untuk bisa benar-benar bisa memiliki emosi yang baik. Sehingga nantinya ada sebuah kecerdasan emosi yang berlandaskan kecerdasan spiritual yaitu ikhlas karena Allah.

Ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan membentuk sistem pendidikan berbasis ketakwaan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Caranya adalah:
1. Menciptakan suatu kurikulum pembelajaran yang religius walaupun itu bukan mata pelajaran agama. Aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan religi harus disentuh secara seimbang.
2. Kurikulum mata pelajaran Agama perlu ditambah jamnya melihat kebutuhan kita akan hal itu.
3. Di tingkat pelaksana pembelajaran, khususnya guru Agama harus bisa memberikan pendampingan yang intensif kepada peserta didik. Ini bisa dilakukan dengan memaksimalkan fungsi organisasi kerohanian di sekolah.

Sehingga tidak ada dikotomi antara mata pelajaran umum dengan penanaman nilai keagamaan. Karena kaum yang bisa memberi kemanfaatan dan rahmat bagi alam ini hanya kaum intelektual yang berdasarkan keimanan kepada allah SWT. Begitu juga jika Indonesia ingin bangkit menjadi bangsa yang besar maka yang harus dibangun pertama kali adalah sistem pendidikan yang berlandaskan keimanan kepada Allah SWT.(mf)


Aksi

Information

2 responses

20 02 2010
handikas

Pendidikan watak harus diutamakan daripada pendidikan otak

21 02 2010
miftahuddin

Iya, sekarang banyak orang berotak tapi tidak berwatak. Thanks buat commentnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: