PENDIDIKAN NASIONAL UNTUK KEBANGKITAN NASIONAL

5 06 2009

Jika kita berbicara masalah kebangkitan nasional ada satu hal penting yang harus kita perhatikan dan cermati. Ya, kebangkitan nasional selalu diawali dengan kebangkitan dalam pendidikan. Kita tahu bahwa kebangkitan nasional dimulai ketika dimulai ketika organisasi Boedi Oetomo mulai berdiri, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908. Kala itu bangkitlah suatu kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air. Boedi Oetomo saat itu, merupakan perkumpulan kaum muda yang berpendidikan dan peduli terhadap nasib bangsa, yang antara lain diprakarsai oleh Dr.Soetomo, Dr.Wahidin Soedirohoesodo, Dr.Goenawan dan Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Tidak dipungkiri bahwa para pemrakarsa Boedi Oetomo adalah output dari sebuah sistem pendidikan di masa lampau. Dimana dari sebuah sistem pendidikan akan lahir ide-ide dan tindakan-tindakan untuk mengangkat martabat bangsa ini menjadi lebih baik.

Masa seratus satu tahun sudah terlewati semenjak masa itu. Idealnya masa seratus satu tahun harus bisa menggiring bangsa kita menjadi bangsa yang sejahtera. Tapi kenyataan berkata lain. Bangsa kita masih terpuruk dalam berbagai aspek terutama aspek pendidikan sebagai pilar utama pembangunan suber daya manusia Indonesia. Ada banyak hal yang mempengaruhi kemacetan -atau bahkan kemunduran- perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Jika kita berbicara masalah sistem tentu tidak bisa dilepaskan dari si pembuat sistem itu sendiri dalam hal ini tentunya adalah pemerintah kita.

Satu hal yang paling mudah kita cermati adalah masalah pergantian kurikulum. Di indonesia, kurikulum pendidikan layaknya sebuah parodi. Sangat mudah untuk berganti ‘judul’. CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), dan sekarang ini KTSP (Kurikulum tingkat satuan pendidikan) setidaknya pernah menjadi judul parodi kurikulum pendidikan kita. Tetapi nyatanya kualitas pendidikan masih sama saja. Ini bisa jadi karena kurikulum kita selama ini hanya terkesan sebagai simbol pergantian kekuasaan. Jika ganti stake holder, ganti pula namanya.

Pemerintah harusnya lebih sadar dan lebih jeli dalam melihat kondisi para pelaku sistem pendidikan di tingkat sekolah. Bisa jadi banyak sekolah belum siap ketika diterapkan sistem yang baru karena mereka masih dalam taraf beradaptasi dengan sistem pendidikan yang sebelumnya. Karena memang kondisi sekolah di Indonesia sangat heterogen. Di satu pihak, sekolah yang sudah maju tidak akan bermasalah dengan pergantian kurikulum, tetapi pemerintah harus tahu masih banyak sekolah yang belum maju yang ketika diterapkan kurikulum baru, mereka akan mengalami banyak ganjalan dan masalah. Bukan berarti bahwa pergantian kurikulum adalah sesuatu yang keliru, bahkan hal tersebut sangat penting sebagai cara untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Tetapi dalam memberlakukan pergantian kurikulum pemerintah harus lebih bijaksana untuk melihat secara menyeluruh keadaan sekolah-sekolah di indonesia sehingga nantinya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia juga bisa dilakukan secara menyeluruh.

Pemerintah juga harus sadar bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan. Di dalam sebuah proses hasil tidak mungkin secara instan bisa dilihat dan dinikmati. Bisa jadi sistem pendidikan yang sekarang diterapkan akan terasa manfaatnya bertahun-tahun mendatang, bahkan ketika para stake holder pendidikan itu sudah tidak berada lagi pada posisinya. Karena keberhasilan dalam sisem pendidikan adalah rangkaian panjang dari sebuah proses yang dijalankan secara baik. Dijalankan dengan baik oleh pembuat sistem dan para pelaku sistem pendidikan. Jika sistem pendidikan sudah dijalankan dengan baik kebangkitan nasional yang kita harapkan pasti akan terwujud dan Indonesia akan muncul sebagai negara yang bermartabat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: