PENDIDIKAN INDONESIA, HARUS DIMULAI DENGAN KETELADANAN

5 06 2009

Sekali lagi dunia pendidikan kita dilanda masalah. Apalagi kalau bukan menyangkut akan diadakannya ujian ulang. Ya, BSNP merilis ada 33 SMA, 1 SMK, dan 4 SMP yang melakukan kecurangan sehingga 100% siswanya dinyatakan tidak lulus, walaupun bentuk kecurangan itu masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut (jawapos, 5 Juni 2009). Sebagian kalangan mendukung diadakannya ujian ulang ini dengan alasan membela kepentingan siswa, walaupun banyak juga yang menyayangkan keputusan BSNP untuk mengadakan ujian ulang ini karena dianggap memberikan toleranasi terhadap tindak pelanggaran. Bahkan ada yang menilai BSNP yang yang seharusnya menjadi badan independen penyelenggara ujian nasional terlalu bergantung pada Mendiknas. BSNP dianggap kurang tegas dalam menjalankan fungsinya. Sudah bukan berita baru lagi bahwa ujian nasional dari tahun ke tahun selalu memunculkan masalah mulai dari banyaknya yang menentang kebijakan diadakannya ujian nasional, hingga masalah banyaknya pelanggaran dalam pelaksanaan ujian nasional tersebut. Jika pelanggaran dilakukan oleh para siswa dengan berbuat curang ketika ujian, mungkin masih bisa diatasi dengan memperketat pengawasan. Tapi akan sangat lain jika pelanggaran ini adalah hasil konspirasi yang sengaja disusun oleh institusi pendidikan dengan alasan inign agar para siswanya lulus semua. Ambil contoh kejadian di SMAN 1 Gorontalo bahwa seorang guru membagikan jawaban soal unas kepadanya siswanya melalui SMS (jawapos, 5 Juni 2009). Hal ini mungkin juga banyak dijumpai di tempat lain dengan beragam variasinya, tapi jelas ini adalah sesuatu yang membuat kita mengelus dada karena prihatin. Akan menjadi apa pendidikan kita ke depannya.

Kasus diatas sekaligus juga menjadi cermin bagi sistem pendidikan di Indonesia. Harus diakui bahwa krisis masalah pendidikan di negara kita bisa dibilang sudah sangat parah, yang tidak hanya terjadi pada siswa didik, para pendidik, tetapi juga menjangkiti para pembuat sistem pendidikan. Sebanyak apapun anggaran pendidikan yang dikeluarkan tidak akan bisa meneyelesaikan maslah pendidikan di negara kita karena memang masalah utama tidak berada pada anggaran dana pendidikan. Masalah utama sistem pendidikan kita adalah karena adanya krisis keteladanan dimana keteladanan yang baik adalah merupakan hal yang langka saat ini. Para guru yang seharusnya menjadi teladan sudah dianggap tidak mampu untuk mengemban amanah itu. Contoh sederhana adalah dengan adanya TPI (Tim Pengawas Independen). Konsep TPI memang bagus karena dianggap bisa meminimalisir kecurangan pada saat ujian, tapi di lain pihak ini menandakan sudah tidak lagi dipercayainya guru karena guru dianggap tidak cukup jujur untuk mengawasi ujian. Toh, nyatanya pengawas independen juga belum tentu lebih baik daripada guru. Dengan banyaknya anggaran dana yang dikeluarkan untuk pengadaan TPI (untuk daerah jati saja membutuhkan ± 40 miliar rupiah), tentu tidak sebanding dengan hasil yang dicapai.

Pendidikan di Indonesia masih belum bisa menjalankan secara semboyan yang selama ini dianut yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Para pendidik masih belum bisa menjadi contoh yang baik untuk para siswa, belum bisa menjadi motivator bagi siswa, dan belum bisa menjadi fasilitator yang baik bagi para siswa. Apakah ini hanya kesalahan dari para pendidik? Tentu tidak, karena para pendidik sejatinya hanya berusaha untuk menjaalnkan sistem yang ada, sehingga tentunya pemerintah juga ikut andil di dalamnya.

Pembenahan sistem pendidikan Indonesia harus dimulai dengan keteladanan, karena pendidikan yang paling baik adalah dimulai dari keteladanan. Keladanan dari pemerintah untuk benar-benar memperhatikan pendidikan dan keteladanan para pendidik untuk memberikan contoh yang baik bagi para siswanya. Sehingga nantinya akan tercipta pendidikan yang berorientasi pada perbaikan moral untuk menciptakan kehidupan bangsa Indonesia yang beradab.(mf)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: